Hit Enter to search or Esc key to close
Blog thumbnail

-35 Snow Town di China (Bagian II)

-35 Snow Town di China (Bagian II)

Blog thumbnail

Bahasa, bahasa, bahasa, merupakan alat paling penting bagi semua traveler. Kami sangat menyadarinya, tapi itu tidak lantas mencegah kami menuju tempat yang kami inginkan. Penginapan Miss. Bi, tempat di mana kami menginap merupakan penginapan yang nyaman, dengan orang-orang yang menyenangkan. Kami ditempatkan dalam kamar kecil, dengan sebuah televisi, sudut jendela rumah penuh salju, dan sebuah ranjang dengan perapian di bawahnya. Antik? Jelas, bagi saya. 

Saya rasa di Indonesia saya tak akan menemukan kamar tidur dengan perapian di bawah ranjangnya, seperti yang saya temukan di sini. Selama di Snow Town, komunikasi kami lakukan dengan senyuman, menggambar bentuk benda di kertas, dan aplikasi translator dari smartphone, bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya perbincangan itu. Beruntung, kawan saya Musthofa lebih mengerti bahasa Mandarin dibandingkan saya—dia pernah belajar Bahasa Mandarin hampir 3 tahun semasa sekolah. Jadi setidaknya, kami tidak benar-benar buta.

Snow Town ternyata desa yang cukup luas, bahkan terdapat hotel mewah di tempat ini. Kami menelusuri desa, sambil mengambil photo untuk kenang-kenangan. Untuk pertama kalinya, kami melihat Siberian Husky, yang menarik kereta kecil dengan dua orang penumpang di atasnya, atau pun Snow Horse—kalau memang boleh dikatakan seperti itu, bertubuh sangat besar, dan memiliki rambut punuk yang lebat. Mereka menarik sebuah kereta seperti yang digunakan oleh Sinterklaus. Hari itu snow falls terjadi sepanjang hari, langitnya berkabut pekat, dinginnya sungguh menyeramkan, saya rasa suhunya mencapai lebih dari -30 derajat celsius—karena keadaannya jauh lebih dingin daripada ketika berada di Harbin. Setengah jam berjalan, Mus merasakan kakinya mulai mati rasa seakan membeku, sedangkan saya merasakannya pada kedua telinga saya.

Penduduk yang tinggal di sini cenderung mengenakan pakaian berlapis, beberapa pengunjung yang datang bahkan mengenakan pakaian dengan label-label “Below Zero”. Sedangkan saya, dan Mus? Hanya mengenakan celana cargo dan jins biasa, dengan lapisan longjohn di dalamnya. Agak gila memang, tapi terus terang kami tidak tahu kalau bakal se-ekstrim itu dinginnya. Lagipula, perlengkapan semacam itu jelas sangat mahal harganya.

Snow Falls memperparah itu semua. Angin yang menggigit, dan salju yang berjatuhan membuat wajah kami hampir mati rasa. Kini saya mengerti mengapa tak sedikit orang-orang yang berasal dari negara 4 musim, membenci musim dingin. Tapi bagi saya, winter adalah musim yang cukup menyenangkan, jika kita memakai pakaian yang tepat untuk menghadapinya. Hanya sekitar 2 jam, kami dapat bertahan di luar dan menjelajahi Snow Town yang sedang dilanda snow falls, karena lebih dari itu, mungkin bisa saja saya tiba-tiba membeku di jalan. Kami sudah tak kuat lagi menahan dinginnya ketika itu.

Mencoba untuk berbaur dengan penduduk, meski tak tahu cara berkomunikasi, rasanya cukup membuat jantung berdentum. Sampai kami diajak masuk ke salah satu rumah, dan mereka geleng-geleng mengetahui pakaian yang kami kenakan. Beberapa menyangka kami berasal dari Malaysia, tapi ketika kami bilang kami berasal dari Indonesia, si bapak agak terkejut. Kami mungkin adalah orang pertama dari Indonesia yang datang ke Snow Town—jika saya tak salah mengerti salah satu perkataan seorang di antara mereka. 

Ohh.. Saya berharap, saya bisa berbicara bahasa Mandarin dengan baik dan benar, saat itu.

Kamar dalam penginapan adalah satu-satunya sumber panas bagi kami, meski terkadang, panasnya itu suka berlebihan. Mus bahkan sempat merasa sedang duduk di atas kompor ketika sedang siap-siap tidur, dan saya sangat setuju untuk pernyataan yang satu itu. Ada satu keberuntungan kecil di hari terakhir ini. Kami bertemu dengan sekelompok mahasiswa dari Beijing, yang kebetulan juga sedang berlibur. Dan beruntung, mereka bisa berbahasa Inggris. Sebuah tarikan napas lega bagi kami. 

Mereka bertanya tentang apa saja kegiatan kami di Snow Town, harus saya akui, kami hanya berkeliling desa saja seraya menikmati snow falls. Sementara mereka? Mendaki sampai ke puncak gunung untuk melihat sunrise, bahkan menjelajahi desa lain yang berada di seberang gunung. Mereka cukup terkejut, dan lebih terkejut ketika tahu kalau kami bahkan tak bisa berbicara bahasa Mandarin. Memasuki desa terpencil, tanpa tahu bahasa yang digunakan di dalamnya, bagi mereka hal itu membutuhkan nyali yang besar.

Bagi saya dan Mus? Justru di situ sisi menariknya. Tiga hari kami menginap di Snow Town. Lalu seperti sebelumnya, si bus menjemput kami, dan si pelajar dari Beijing cukup menyenangkan untuk menjadi kawan ngobrol sepanjang perjalanan kembali menuju Harbin.Musim dingin beserta salju lembutnya, merupakan suatu hal baru yang belum pernah kami rasakan. Memang agak menakutkan untuk coba mencicipinya, tapi kepuasan yang menyenangkan kami dapatkan karenanya. Bagi saya pribadi? Merasakan musim dingin dan salju, adalah salah satu momen yang harus saya rasakan dalam hidup saya. Saya sempat berpikir untuk kembali menemui salju lain waktu, dengan persiapan yang lebih matang pastinya. Menyaksikan sunrise atau sunset, atau mungkin menikmati indahnya Aurora Borealis di langit berbintang di hamparan salju yang menawan. (end)

Write a Review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*