Hit Enter to search or Esc key to close
Blog thumbnail

-35 Snow Town di China (Bagian I)

-35 Snow Town di China (Bagian I)

Blog thumbnail

Body Shock. Dua kata itu yang terekam jelas di kepala saya, dan kawan saya, Musthofa. Snow Town, begitu mereka menamainya. Sebuah desa terpencil di wilayah timur laut China, kira-kira tepatnya di provinsi Heilongjiang. Perjalanan menuju desa kecil di atas gunung ini bisa dimulai dari Harbin. Cukup banyak travel agent yang menyediakan tour ke sana. Tapi saya dan Mus, memutuskan tidak mengikuti tour yang ada, melainkan berinisiatif mencoba pergi sendiri.

Bulan Februari, minggu pertama, saat itu suhu di Harbin yang terakhir saya rasakan adalah -25 derajat celsius. Sebagai orang Indonesia yang terbiasa tinggal di wilayah tropis, memasuki suhu minus untuk pertama kalinya adalah pengalaman yang menegangkan. Dalam suhu segitu, semua cairan yang ada di permukaan jalan membeku. Bahkan genangan air yang baru mengalir dari pipa pembuangan pun, membeku dalam hitungan menit.

Hari Selasa pagi kami meninggalkan Harbin, menuju Snow Town naik bis antar kota. Dalam bis, kesan asing begitu kental, mengingat hanya kami pengunjung yang berasal dari luar China. Dan berdasarkan pengalaman selama di sana, naik angkutan umum termasuk moment seru tersendiri, karena mereka selalu memperhatikan kita ketika kita berbicara dengan bahasa yang berbeda. Kadang lucu, tapi kadang juga membuat risih. Menelusuri jalan tol, menuju timur, pemandangannya berupa lahan kering yang membeku sepanjang perjalanan. Pepohonan hanya tinggal batangnya saja, hektaran tanah mengering terselimuti lapisan tipis salju, bahkan semua sungai yang kami temukan sepanjang jalan pun beku menjadi es. 

Pemandangan luar biasa yang membuat kesan tersendiri bagi kami. Keluar dari jalur tol, bis memasuki sebuah kota kecil yang bahkan saya sendiri tak tahu namanya. Kami mulai memasuki jalanan berliku penuh salju yang lembut dan cantik. Jalanan menanjak, dengan suhu semakin dingin menusuk meskipun ada penghangat di dalam bis. Sempat ada beberapa penumpang turun di desa lain, sebelum Snow Town.

Snow Town adalah desa pariwisata, itu kesan yang saya dapatkan ketika tiba di gerbang utama. Supir bis keluar untuk meminta izin masuk, dan kami melanjutkan perjalanan setelah portal dibuka, menuju puncak gunung. Kami diturunkan di tanah lapang, berjalan kaki memasuki bangunan dengan loket tiket di dalamnya, dan keluar dari pintu seberang. Ada bis lain yang berukuran sama menjemput kami, mengantakan semua penumpang ke penginapan tempat mereka menginap. Kami turun lebih dulu, saat tersadar kalau penginapan kami ternyata merupakan yang paling dekat di antara semuanya.

Letih, dan membeku. Itu yang tubuh kami rasakan ketika keluar dari bis. Namun itu semua pudar ketika kami terpaku memandang keadaan di sekeliling kami. Snow Town adalah sebuah desa yang mirip dengan desa dalam kisah-kisah Fairy Tales, dunia dalam The Narnia, atau seperti tempat yang pernah kau lihat dalam film-film fantasi. Rumah-rumah kayu yang tertutup oleh salju tebal yang putih dan lembut seperti kapas. Pepohonan cemara menghiasi permukaan bukit yang menjulang tinggi. Bangunan-bangunan persegi dengan lampion China berjajar rapat di pinggiran jalan. 

Di sini juga terdapat aula besar yang digunakan untuk pertunjukan opera. Tempat bermain ski bagi mereka yang ingin mencoba ski juga ada. Angin dari puncak pegunungan menghentak kami, seorang bapak memanggil kami untuk mengikutinya menuju penginapan. Sulit kukatakan, tapi harus kuakui, kami tak bisa berbicara bahasa Mandarin saat ini.

Write a Review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*